Selamat datang di blog saya!

Topik yang kita bahas kali ini adalah :

TILANG = Bukti Pelanggaran

.

Masih banyak masyarakat yang belum mengenal dengan baik apa itu Tilang?

Dalam kesempatan ini akan kami jelaskan secara singkat, agar anda mengetahui dan mengerti apa tujuan diadakannya Tilang.

Pengemudi di jalan raya, dibagi 2 golongan pengemudi, yaitu pengemudi tertib dan pengemudi yang tidak tertib.

Untuk menertibkan pengemudi yang tidak tertib, Polisi menerapkan 2 jenis tindakan:
A. Tindakan edukatif(memberi teguran simpatik),
B. Tindakan yuridis(tindakan secara hukum) = Tilang

Tilang ditujukan kepada 27 jenis pelanggaran lalu lintas dengan kriteria pelanggaran sebagai berikut:
- Pelanggaran secara kasat mata diketahui
- Tidak perlu alat pembuktian
- Tidak perlu keterangan ahli

Tilang terdiri dari 5 warna:
- Merah dan Biru untuk pelanggar
- Kuning untuk Polisi
- Putih untuk Kejaksaan
- Hijau untuk Pengadilan


Apabila anda terkena Tilang, ada 3 alternatif yang dapat anda lakukan, yaitu:

A. Alternatif I : Pelanggar mengakui kesalahan, bersedia membayar denda baik langsung ke Bank BRI, atau menitipkan uang denda kepada Bintara Urusan Tilang(BAUR TILANG), di Polres yang mengeluarkan tilang tersebut. (Polres yang mengeluarkan tilang, tertera dalam tilang berupa stempel pada pojok kiri atas lembar tilang). Pelanggar akan mendapatkan tilang berwarna BIRU

B. Alternatif II : Pelanggar mengakui kesalahan, bersedia membayar denda, dan mau menghadiri sidang sendiri, akan diberi tilang warna MERAH.

C. Alternatif III : Pelanggar tidak mengakui kesalahan, tidak bersedia membayar denda, dan besedia menghadiri sidang sendiri, akan diberi tilang warna MERAH & BIRU.

Tilang berfungsi sebagai:
1. Sebagai Surat Penggilan ke Pengadilan Negeri
2. Sebagai pengantar untuk pembayaran denda ke Bank/Panitera
3. Sebagai tanda penyitaan atas barang bukti.

Barang bukti yang disita adalah:
1. SIM
2. STNK
3. Kendaraan bermotor

Demikian sekilas informasi mengenai tilang, apabila kurang jelas silahkan kirim pertanyaan anda ke email saya, atau anda dapat meninggalkan komentar pada blog ini.

Pesan saya, mohon kurangi kebudayaan berdamai dengan sangsi pelanggaran apabila anda terkena razia di jalan, karena ini artinya, anda sendri yang membuka kesempatan lahirnya pungli...
Belajarlah berani menerima konsekwensi dari pelanggaran yang anda buat sendiri...

Satu tahun saya jadi Kanit Patroli, mungkin sudah ribuan pelanggar yang saya tilang (satu hari pernah saya pernah menilang 170 orang), namun dapat dihitung dengan jari pelanggar yang berniat ke sidang... sisanya berteriak... "Damai aja 'Pak!"

:-)

Sekali lagi mengingatkan, "Polisi adalah bayangan masyarakatnya..."


(Anggota Unit Patroli saya, yang saya latih untuk menilang, agar lebih profesional di lapangan)

78 komentar:

  1. Saya ada beberapa pertanyaan.

    1. Kenapa polisi tidak tilang metromini, mikrolet, alias kendaraan umum yang jelas2 melanggar perarturan lalu lintas, sedangkan kendaraan pribadi yang ditilang?

    2. Kenapa pas deket2 lebaran baru lebih sering muncul operasi raziah, sedangkan di hari lain, jarang dilihat?

    3. Sempet saya baca bahwa jika ada operasi raziah, polisi harus pasang tanda 100m sebelum adanya raziah, supaya pengemudi bisa siap2 berpelan. Tetapi, dari beberapa raziah, tidak pernah lihat tanda tersebut. Kenapa?

    4. Jika kendaraan berroda dua tahu didepan ada raziah, mereka nekad lawan arah untuk hindari dikena tilang, akibatnya jalanan tambah macet. Saya rasa polisi tahu pratik macem begini, kenapa tidak ada response? Response yang saya lihat adalah raziah ditikungan, tanpa ada tanda, menjadikan orang harus rem mendadak. Bukannya itu mementingin raziah daripada keselamataan para pengemudi?

    Sekian komentar saya.

    BalasHapus
  2. memang tidak semua Polisi adalah hobi pungli. saya doakan pak I Gede Nyoman selalu jadi polisi bebas damai. Polisi lainnya juga makin bisa dewasa untuk tidak menerima damai, dan tidak mencari-cari kesalahan.

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas pertanyaan anda,

    1. Mengapa mengutamakan pelanggaran yang dilakukan oleh kendaraan pribadi?

    Mungkin ada titik jenuh Polisi yang anda lihat cuek terhadap pelanggaran tersebut. Saya pertama kali jadi polisi juga sangat brutal mas, tidak terhitung jumlah kaca spion BAGONG (Metromini'nya Blitar) karena mereka berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang di tikungan, sehingga kendaraan di belakangnya jadi terhambat.
    Tapi lama-kalamaan, capek juga mas.
    Saya pelajari, supir tersebut berhenti karena masyarakatnya menunggu dan minta turun tepat di tikungan. Karena supir Bagong rata-rata tamatan SMP, maka pelanggaran mereka lebih cenderung disebabkan karena masyarakat. Namun kendaraan pribadi, apabila melanggar, adalah karena niatnya sendiri melanggar. Tapi apabila saat razia petugasnya cukup banyak, yakinlah mas, tidak akan ada yang lolos.

    2. Mengapa menjelang hari raya baru sering terlihat razia?

    Begini mas, razia dilakukan setiap hari. Kenapa ditingkatkan frekwensinya mendekati hari raya? Karena ada prinsip, "setiap kecelakaan pasti diawali dari pelanggaran".
    Mendekati hari raya akan banyak pengemudi yang mudik dan balik, dengan ditingkatkan razia kita mengharapkan jumlah kecelakaan dapat ditekan.
    Kalau mau sering lihat razia, coba tempel terus Polantas Unit Patroli mas, pasti nanti bosan sendiri mas, tiap hari menilang ratusan orang.
    Saya pernah membuat rekor sendiri di BLitar, dalam 1 jam menilang 86 pelanggar, razia pagi hari menilang pelajar SD, SMP, SMA, yang dibawa orang tuanya tanpa helm.

    3. Mengapa tidak sesuai prosedur, tanda 100m sebelum razia?

    Tidak semua kesatuan peralatannya lengkap mas. Tanda itu dapat diganti dengan petugas yang memberikan tanda/isyarat agar pengemudi mengurangi kecepatan.

    4. Razia di tikungan?!

    Salah! Sangat salah!!! Silahkan tegur apabila melihat polisi yang demikian mas. Jangan takut, kami pelayan anda.

    Balik arah? Bagus kalau berbalik arah dan selamat mas, pengalaman saya, begitu melihat razia, seorang anak kecil mengerem mendadak, dan langsung dihantam dari belakang oleh truk trailer, alhasil.. masuk rumah sakit, koma!
    Yang disalahkan Polisi lagi... hehehe...
    Itulah mas, akibat kalau dari kecil, sering ditakut2i oleh ibunya, kalau nakal, nanti ditangkap polisi. Akhirnya, selengkap apapun pengendara, apabila melihat razia dari jauh, pasti ada rasa was2 di dalam hati.

    Bantu kami mas, kurangi menakut2i anak anda, dengan sosok Polisi.

    Oh iya, respons kami melihat yang putar balik, apabila razia dilengkapi pasukan BM (bermotor), pasti kami kejar mas.
    Kenapa harus dikejar? Ada dalam salah satu topik blog ini mas.

    Namun kalau anggota kita kurang, yah, mau gimana lagi mas, Polisi juga manusia, hanya bisa senyum manis melihat yang lari tadi... berharap mereka kembali, dan mengakui pelanggarannya kepada kami dengan rasa penuh tanggung jawab... (apa mungkin yah?)

    BalasHapus
  4. Wah, terima kasih doa nya mas..

    Polisi tidak bisa maju sendirian, profesionalisme Polri itu dibentuk dari dalam, dan juga harus ditekan oleh masyarakat yang pengetahuan akan hak dan kewajibannya semakin lama semakin meningkat...
    Sebagai contoh, masih banyak mas, masyarakat yang tidak mengerti kalau telat pajak tahunan kendaraan itu tidak dapat ditilang... Tapi ditilang juga oleh Bad Cop...

    :-)

    BalasHapus
  5. Jujur saja, didalam polisi, pasti ada yang jadi bad cop & ada yang tetep tegakan hukum.

    Dan sayang sekali yang sering dilihat di kalum masyarakat adalah bad cop.

    Di deket pecenongan, bahkan ada polisi (pakai seragam), yang sama sekali tidak usir mikrolet & metro mini yang ngetem di bahu jalan sebelah kanan.

    Semoga generasi muda yang jadi polisi lebih cenderung jadi good cop daripada bad cop.

    btw, raziah di tikungan sering ada di Jelambar.

    BalasHapus
  6. Pak,

    Saya semalem kepikiran, kenapa harus brutal terhadap kendaraan umum? Bukankah cukup ditilang saja?

    Besokannya jika melanggar lagi, tilang lagi saja, dan seterusnya.

    Pasti mereka tidak akan tebus STNK mereka, sampai pas tahun depan waktu perpanjang STNK. Dan di Polres sudah banyak surat tilangnya, tinggal suruh mereka bayar saja. Tidak sanggup bayar, ya tidak bisa tebus STNK untuk perpanjang.

    Jika mereka tidak perpanjang STNK, berikutnya kali di tilang, sudah otomatis kendaraan yang tidak diperpanjang, ada sanksi yang lebih efektif, mungkin kendaraannya disita sekaligus?

    BalasHapus
  7. Hahahahaha!

    Betul mas!

    Itu memang kesalahan saya, tapi jangan sampai pusing mikirin itu mas.

    Kalau mau mencari penyebabnya, mas cukup ikut saja, mengawasi kami mengatur lalu lintas di perempatan jalan, dari pagi sampai sore. Terus menikmati kayanya gas CO (karbon monoksida) memasuki paru-paru, sehingga membuat kepala cepat pening. Terus dihadapan petugas, pelanggar lalu lintas yang berulang kali diingatkan, berulang kali ditilang, masih tetap saja cuek sama petugas.

    Kalau turun langsung ke lapangan memang begitu mas, panas cuaca, dilengkap gas CO, dapat merubah manusia menjadi mudah es'mosi mas.

    Tapi seiring waktu, saya menyadari, berdasarkan analisa saya pribadi kalau pelanggaran angkutan umum 50% diakibatkan oleh penumpang, 30% oleh pengusahanya yang mematok target setoran gila2an, dan 20% karena memang pribadi supir yang jelek.

    Jadi, sekarang saya sudah tobat mas...

    nb:
    Dalam hal pelanggaran lalu lintas, kendaraan hanya dapat disita apabila pengemudi tidak dapat menunjukkan SIM dan STNK.

    BalasHapus
  8. Mohon maaf saudara (anonim), berhubung blog ini tidak resmi, dan tidak online seluruh republik, mohon maaf untuk keluhan bapak, saya tidak bisa membantu banyak. Saya sarankan anda menggunakan sarana media masa, seperti koran atau lewat radio pak.
    Semoga keluhan bapak dapat segera direspon.

    Nb: Good cop - Bad cop, itu betul ada pak, terima kasih atas doa nya.
    Sisi baik dan kurang baik itu ada di setiap instansi, orgasnisai, dan setiap aspek masyarakat.
    Sebagai tambahan wawasan, itulah yang dimaksud kain kotak-kotak hitam-putih yang sering anda lihat di Bali. Corak itu mengandung filosofi, bahwa dalam dunia ini pasti ada yang baik, dan ada yang kurang baik, dan jumlahnya seimbang.

    BalasHapus
  9. Pak,

    Saya sih malahan mau berterima kasih atas upaya bapak untuk mau edukasi kita masyarakat secara sukarela, alias tidak ada tambahan upah tapi tetep kerjakan tugasnya.

    Sebetulnya keluhan ini, tujuannya bukan untuk ditanggapin, tetapi untuk lebih memahami kerjanya para Polisi. Jangan main ngeluh tanpa ada informasi yang betul.

    Keep up the good work!

    BalasHapus
  10. boleh saya tau bagaimana prosedur menyelesaikan tilang dengan slip biru?

    terima kasih...

    BalasHapus
  11. Tentu saja boleh pak Rumi...

    Dengan mengakui pelanggarannya, dan bersedia membayar denda sendiri, pelanggar akan menerima lembar warna biru.
    Secepatnya lembar biru itu anda bayarkan ke bank BRI.
    Selesai membayar denda, anda akan mendapat kwitansi pembayaran.
    Dengan kwitansi pembayaran itu, anda dapat langsung ke Polres yang tertera dalam tilang, dan menuju ruang Sat Lantas bagian Tilang.
    Di sana anda dapat menukar Lembar Tilang Biru dengan Kwitansi dari BRI, dengan barang bukti yang disita oleh petugas.

    Mohon lakukan pembayaran denda ini sebelum tanggal sidang yang tertera, karena lebih dari tanggal sidang, barang bukti akan kami kirim ke pengadilan.

    BalasHapus
  12. Pak Polisi,
    1. Kalo masalah bad cop ato good cop, itu sebenarnya dimulai dr awal. Kl proses rekrutnya bersih....ada kemungkinan dian jd good cop, tp kl masuknya nyogok...ya pasti jd bad coplah...
    gmn mo ngarepin output yg bagus kl inputnya emang ga bagus
    2. Saya menyesal baca bahwa polisi capek, bosan, pusing menilang/memberi peringatan ato postingan ini "Kalau mau mencari penyebabnya, mas cukup ikut saja, mengawasi kami mengatur lalu lintas di perempatan jalan, dari pagi sampai sore. Terus menikmati kayanya gas CO (karbon monoksida) memasuki paru-paru, sehingga membuat kepala cepat pening. Terus dihadapan petugas, pelanggar lalu lintas yang berulang kali diingatkan, berulang kali ditilang, masih tetap saja cuek sama petugas.

    Kalau turun langsung ke lapangan memang begitu mas, panas cuaca, dilengkap gas CO, dapat merubah manusia menjadi mudah es'mosi mas."

    Ternyata kualitas anda ato mungkin polisi lainnya cuman segini, anda sih enak..meskipun bosan, capek, pusing trs nyuri2 waktu untuk santai..tetep dibayar ama pemerintah (yg nota bene duitnya dari rakyat), nah kita yg diswasta..boro2 berani bosan ato capek? bs2 pelanggan lari semua. Ini kan sudah resiko pekerjaan, kl ga kuat ya keluar donk..masih banyak yg mau bekerja lebih keras dan lebih baik.
    Ini syukur bag lantas (yg termasuk kejahatan ringan) yg bilang bosan, nah kl polisi yg mengejar pembunuh yg bilang, capek, bosan..dimana melindungi masyarakatnya?
    TO SERVE AND TO PROTECT????
    Serve siapa? protect siapa?

    BalasHapus
  13. Trims atas kritik dan sarannya pak anonim, sangat membangun..
    Sangat membangkitkan saya untuk menilang lebih banyak lagi.. Hehehe...

    Untuk nomer 1, untuk masalah sogok menyogok, yang masuk polisi itu rata2 anak SMA baru lulus loh pak, mungkin yang memaksa lewat 'jalan belakang' adalah orang tua mereka.

    Kalau sudah begini kejadiannya, apakah kita dapat memvonis kalau kelak polisi muda ini 'pasti' menjadi bad cop?

    Teori yang bapak gunakan diatas adalah GIGO, yaitu Garbage in - Garbage out, sampah masuk - sampah keluar. Teori ini berlaku untuk komputer pak, yaitu salah memasukkan perintah, maka yang keluar adalah hasil yang salah.

    Jangan samakan polisi dengan benda mati, polisi juga manusia, yang punya hati nurani yang bersih di dalam hatinya. Dengan dasar itulah saya tidak henti2nya mengingatkan anggota saya untuk bekerja menggunakan hati nurani mereka, dan mengingatkan mereka bahwa yang mereka layani adalah masyarakat, bukan barang, harus bersikap sopan, informatif, dan tegas.

    Untuk yang 2, mungkin benar pak, polisi lalu lintas tidak ada apa2nya pak dibanding dengan polisi bagian reserse yang tugasnya mengejar2 maling...

    Apalagi kalau dibandingkan swasta... yang prinsip kerjanya 'time is money' (makin banyak kerja, makin banyak tambahannya)

    Wah... jauh sekali pak...

    Saya ini bekerja sebagai pembantunya* bapak.. Bapak adalah majikan saya..

    Saya pernah kena lemparan air kencing, telur busuk, es batu, batu batre, agua gelas, dsb.. tidak akan dapat dibandingkan dengan bapak yang bekerja mati2an membanting tulang dan memeras keringat di dalam ruangan plus dilengkapi dengan dasi bertengger di kemeja sehingga bapak tampil gagah dan menarik konsumen...

    Saya mau kerja 168 jam seminggu pun juga tidak ada ongkos lembur pak, karena memang kami pekerjaan kami sebagai pembantu pak...

    Yah... oleh karena itu saya mohon maaf pak, kalau kami curi-curi waktu istirahat saat mungkin 2 jam berdiri di tengah jalan, atau 5 jam berdiri nungguin pengunjuk rasa yang berbaring santai mendengarkan temannya berorasi, serta saat belajar menulis blog ada kata-kata yang salah sampai menyinggung bapak... :-)

    Sekali lagi, mohon maaf pak anonim...
    Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya, untuk menjadi polisi yang lebih ber'KUALITAS!

    Merdeka!!!


    * Salah satu fungsi polisi adalah sebagai pelayan masyarakat, pelayan = pembantu.

    BalasHapus
  14. assalamu'alaikum

    pak polisi yang baek..
    he..

    smangat buat blognya..
    cukup bagus..

    mau nanya nih pak..
    kalo kita telat bayar pajak apa bisa ditilang?
    soalnya kemaren waktu ada razia di daerah saya..
    saya kan kena tuh, nah surat2 sih lengkap..
    trus dibilang katanya pajaknya mati, dan disuruh bayar tilang..
    dia bilang motornya harus di tahan dan saya disuruh bayar pajak dulu..
    padahal saya ditilang di jakarta dan pajaknya di bogor, kan jauh banged pak..
    yaudah de, karna saya juga lagi buru-buru, waktu itu lagi mau ngejemput, saya terpaksa 'damai'..
    padahal tadinya saya mau minta slip biru, tapi kata dia 'titip tilang', dan motornya tetep harus di tahan..
    lah, dari pada motornya di tahan..
    yaudah deh dengan terpaksa..

    gimana tanggapan bapak?
    yang pasti saya kemaren jadi orang yang tidak baik..
    karna udah nyogok polisi..
    hehehe...

    BalasHapus
  15. Selamat malam mas Habib,

    Telat pajak tidak bisa ditilang pak. Dalam UU hanya tertera kendaraan yang tidak teregistrasi yang bisa ditilang. Bukti registrasi adalah BPKB, TNKB (pelat nomer), dan STNK. Masa berlaku 5 tahun, setelah itu wajib di registrasi ulang.

    Tanggapan saya?

    Takut sama Polisi bukan jamannya lagi pak, sekarang masyarakat harus menyadari kalau mereka adalah "Majikan" yang harus dilayani oleh Polisi... Polisi sebagai pelayan masyarakat. Apabila pelayannya salah, langsung ditegur.. Kalau pakai acara mengancam, cukup catat nama, pangkat, dan kesatuan/polres nya (bet di lengannya), lalu laporkan ke P3D/Provoostnya polres tersebut, supaya oknum2 seperti itu musnah dari muka bumi... Maaf agak ekstrim mas, kita berjuang untuk melakukan yang terbaik untuk masyarakat dengan program Quick Wins dari Kapolri, berharap gaji kita naik sesuai standar gaji polisi internasional.. Namun gara2 oknum sial ini yang bikin Depku agak males menyetujui remunerasi gaji polisi..
    Hehehe.. Koq jadi curhat yah?

    ok, itu saja.. Lain kali harus berani yah mas, kalau merasa benar. Berani karena benar! Tapi sebelum beranim, mungkin rajin2 baca blog saya, supaya tau dulu, mana yang salah, dan mana yang benar...

    Salam!

    BalasHapus
  16. Selamat Malam 'Pak Sena...

    Good Work Bapak.
    Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan :

    1. Saya suka dengan ulasan Anda tentang Polisi sebagai Pelindung, Pengayom dan Pelayan Masyarakat..Tetapi akan lebih baik kalau kata Pelayan tidak disamakan dengan Pembantu.
    Karena saya berasumsi Pelayan disini sebagai mitra sejajar dengan job desk tertentu. Kalau Pelayan diartikan sebagai pembantu bagaimana dengan Perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayanan masyarakat juga, misalnya perbankan, kesehatan, dll?

    2. Soal tanggapan masyarakat yang menyamaratakan setiap insan Kepolisian dengan hal yang tidak baik... well saya rasa kita tidak bisa merubah pola pikir manusia secepat mereset komputer bukan?
    Keep on going the great job u've done...karena hal yang baik akan berbuah baik pula.
    (Mudah-mudahan bukan karena narsis...heheheh becanda 'Pak)

    3. Sepertinya pola tilang yang penuh birokrasi sampai harus sidang segala yang membuat orang memilih 'damai' di tempat. Lagi pula 'kan lumayan repot Polantas-nya nulis-nulis surat tilang sampe bikin rekor. Kalau boleh dicariin solusinya dunk, semua sekarang dibuat otomatis dan on-line jadi kenapa pola tilang tidak dibuat seperti itu saja? Soal cost...yah wajar aja sesuatu yang baru pasti ada harganya tapi untuk kedepannya nanti akan lebih nyaman.

    Ok 'Pak terima kasih sudah diperkenankan mengisi komentar ini (walaupun jadinya kayak kolom opini heheh). Maaf kalau ada salah kata.
    Selamat Malam..

    BalasHapus
  17. Terima kasih mbak Lily,

    1. Betul mbak, memang penggunaan kata pembantu berkesan keras, namun sengaja saya gunakan itu untuk menekan kerasnya asumsi masyarakat yang membaca blog ini yang sudah sejak awal tertanam bahwa polisi adalah penguasa, bukan pelayan mereka.

    2. Betul mbak..

    3. Memang sengaja dibuat demikian mbak, namanya tilang akan dibuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek jera. Apabila dibuat mudah, maka akan memudahkan golongan tertentu, misalkan golongan orang mampu yang membunyai kartu ATM atas bank tertentu, sedangkan masyarakat golongan bawah dipaksa untuk hadir ke sidang. Hal ini akan menimbulkan masalah yang baru mbak.

    BalasHapus
  18. selamat sore

    ada yang ingin saya tanyakan
    1.apakah sampai sekarang surat tilang warna biru masih berlaku?karena saya dulu pernah minta surat warna biru kata polisi (sering di panggil BM/yang naek motor gede) udah g berlaku.benarkah?

    2.kalo masih berlaku,hal2 apa saja yg perlu dilakukan sampai kendaraan kita kembali ke tangan kita?

    3.saya punya motor plat "L". tapi saya berdomisili di jakarta dan kendaraan tersebut saya gunakan setiap hari. perlukah plat nomer di ganti "B" ?

    sekian terima kasih

    salam

    BalasHapus
  19. Selamat sore pak anonim...

    1. Masih berlaku pak, kata BM yang bapak temui itu tidak benar.

    2. Segera ke Bank BRI terdekat, bayar dendanya, dan langsung menuju Polres dimana bapak ditilang, untuk ditukarkan dengan BB yang telah disita. (BB dapat berupa STNK, SIM, atau Ranmor)

    3. Perlu pak, UU mewajibkan hal itu.

    BalasHapus
  20. Selamat pagi Pak..

    Melanjutkan dari pertanyaan bapak Anonim pada point 3,

    "3.saya punya motor plat "L". tapi saya berdomisili di jakarta dan kendaraan tersebut saya gunakan setiap hari. perlukah plat nomer di ganti "B" ? "

    dan Bapak menjawab Perlu, karena UU mewajibkan hal itu.

    Saya sebagai masyarakat awam ingin tahu UU nomor dan tahun berapa yang menyatakan demikian, kalau bisa sama pasal dan ayatnya biar afdol..

    terima kasih banyak..

    BalasHapus
  21. Pasal 176, Nomor 2, PP 44 Tahun 1993, Tahun 1993, tentang Kendaraan dan Pengemudi.

    Rubah nama pemilik, alamat, spesifikasi teknis, harus dicatat dalam BPKB.

    BalasHapus
  22. Saat masih jadi mahasiswa dahulu pernah mencoba ikut sidang saat kena tilang dengan motivasi sebagai pengalaman ( biasanya 'titip' ). Kenyataannya proses jalannya sidangnya cuman 5-10 menit, cepet banget.
    Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii neeehhhhhh.... menunggu dimulainya sidang itu lho, molor 2jam lebih dari jadwal yang ditentukan, meski ada beberapa ruangan yang kosong. Benar-benar buang waktu dan tenaga, tidak punya disiplin waktu dan terkesan tidak menghargai ( meskipun sebagai pelanggar ). Semoga hal demikian tidak sering terjadi, karena secara tidak langsung saat itu saya merasa menyesal tidak memilih 'nitip'.

    BalasHapus
  23. Malam Pak Polisi,

    Mau nanya nie Pak.. saya baru saja ditilang karena sim a saya mati.. namun surat tilangnya berwarna merah bukan biru.. dan dalam surat tilang tersebut tidak terdapat jumlah denda yang harus saya bayarkan hanya pasalnya saja.. yang menjadi pertanyaan saya: apakah saya bisa mendapatkan surat tilang biru? bagaimana caranya? berapa denda untuk sim a yang sudah kadarluarsa alias mati sejak 5thn yang lalu?? terima kasih atas pencerahannya..

    BalasHapus
  24. Warna MERAH untuk ke sidang pengadilan mas anonim... Kalau warna BIRU untuk ke BRI...

    Apabila jumlah denda tidak ditulis, ini adalah kekhilafan petugas, seharusnya MERAH ataupun BIRU harus tetap ditulis...
    Namun karena merah itu sebagai panggilan ke sidang, maka diperkirakan oleh petugas, mas anonim akan mengetahui jumlah dendanya di sana.

    Kecuali lembar BIRU, pasti petugas menuliskan jumlah dendanya.

    Untuk lembar biru, bisa.. tinggal minta saja, katakan kepada petugas kalau mas anonim mau bayar ke BRI.

    Untuk masalah SIM, coba buka2 lagi postingan saya tentang SIM yah mas.. Kalau saya jawab lagi di sini, nanti pembaca yang lain bisa bosan..

    Nb: Pertanyaan lain, mohon dengan sangat.. Tulis nama.. Terserah mau nama apa saja.. Tidak enak menulis "Mas anonim"

    BalasHapus
  25. siang bos..
    mo tanya ne
    1.kalau berapa besar tilang itu dah ada aturan baku nya?
    2.saya dapat form biru tapi tertera
    harus ikut sidang juga??
    3.bayar ke bank bri sesuai dengan yg tertulis di form biru?
    4.kalau saya keberatan dengan jumlahnya bagaimana?

    BalasHapus
  26. Malam mas bos..
    1. Jumlah denda tilang tergantung wilayah, kesepakatan antara Polri, Kejaksaan, dan Pengadilan, karena berhubungan dengan pendapatan masyarakat di wilayah tersebut.
    2. Salah satu fungsi tilang adalah surat undangan kepada pelanggar ke pengadilan, jadi kalau anda membayar melalui BRI, tidak perlu ke sidang.
    3. Benar
    4. Silahkan nego di pengadilan

    BalasHapus
  27. Selamat siang Bapak Polisi,

    ini sekedar rasa ingin tau saya. Disebutkan Tilang adalah bukti pelanggaran. Yang jadi persoalan adalah BUKTI nya. Mana buktinya?

    Di luar negeri (maaf bila saya membandingkan nya) surat tilang hanya berlaku di pengadilan bila di sertai bukti resmi, dalam banyak kasus hal itu adalah foto dari TKP itu sendiri.

    Jadi bila pelanggar dinyatakan bersalah melanggar lampu merah misalkan, maka haruslah ada FOTO dari bukti pelanggaran itu sendiri, paling tidak itu menurut hemat saya.

    Tidak bisa hanya dibuktikan bahwa "ada polisi yang melihat", itu bukti terlalu subyektif dan tidak bisa dipertanggungjawabkan untuk negara hukum seperti Indonesia ini.

    Paling tidak, saya rasa, dalam hal ini, PEMBUKTIAN masi sangat rentan untuk dituntut dan dipersoalkan, karena bukti dari laporan pandangan mata tidaklah cukup kuat.

    Bagaimana pendapat Bapak dalam hal ini?

    Terima kasih untuk tanggapannya..

    BalasHapus
  28. (saya jawab dalam posting baru "Saya?! Melanggar?! Apa buktinya?!")

    BalasHapus
  29. Halo coy
    saya mau tanya
    1.kenapa polisi tidak menuliskan nominal nominal denda tilang dalam bentuk kolom lalu menempelkannya didinding pos polisi agar kita tau dikibuli atau tidak...
    soalnya biasanya polisi sebelum nilang tanya
    1. tau kesalahan?
    2. tau dendanya? nah kalo kita jawab g tau,beh.....bisa jadi 3 kali lipat

    2.sebenarnya saya sangat bingung kenapa polisi bisa menahan motor pelanggar sekalian stnk dan SIMnya seolah mewajibkan damai ditempat (kan kalo motor ditahan g bisa ngurus bayar ke BRI jalan kaki). padahal di pasal 14 UU 1992 dijelaskan motor hanya boleh disita apabila pelanggar tidak bisa menunjukkan STNK motor ( karena bisa dicurigai sebagai motor curian). nah kalo jelas jelas STNK nya asli dan ada, kenapa motor ditahan. saya sumpahi polisi yang nilang saya kemaren cuma gara2 tanggal dan tahun diplat belum sempat diganti akan menerima ganjarannya dari TUHAN. semoga anaknya yang makan uang 50.000 itu kena kangker OTAK aminnn .padahal uang itu buat beli Obat.( doa orang teraniaya akan terkabul)

    BalasHapus
  30. POLISI=PELAYAN=KACUNG=PEMBANTU masyarakat. tapi pembantunya bawa pistol. wajar aja majikan takut hahahahah

    BalasHapus
  31. saya ada beberapa pertanyakan..
    1:kalau kita telat menghadiri pegadilan saat kita mau ambil SIM/STNK..tp telatnya 2minggu ..apa kita bisa mengambil SIM/STNK kita kembali..? ...dan dimana kita mengambil nya..
    ____________________________________

    nb:tolong penjelasaan nya pak..?


    salam

    BalasHapus
  32. @Anonim:
    1. Tabel tersebut ada di 3 instansi pemerintah, yaitu di Polri, Kejaksaan, dan Pengadilan. 3 instansi ini yang menetapkan besar denda dari masing2 pelanggaran lalu lintas. Besar denda ini tidak boleh melebihi denda maksimal yang ditetapkan oleh UU.

    2. Polisi punya wewenang diskresi, yaitu melakukan tindakan diluar UU atas dasar pertimbangannya yang mungkin apabila tidak dilakukannya tindakan tersebut dapat mengganggu ketertiban umum bahkan berpotensi menimbulkan kecelakaan. Mohon jangan cepat2 menyumpah. Kalau sudah ditilang, uang 50rb diberikan. berarti uang masuk ke negara. Dari negara akan disalurkan kepada pelayanan masyarakat, misalnya RS gratis. Kalau misalnya anak anda yang sedang menerima pelayana RS gratis tersebut, apakah anda bersedia menarik sumpah anda lagi?

    "Tolong dicamkan baik2.
    Jangan pernah memberikan uang kepada petugas, mintalah lembar tilangnya."

    Terima kasih.

    Anonim2: Betul mas! Biar keren.. bawa2 pestol.. hahahahaha.. Gini aja deh, kalau suatu hari ibu anda dirampok dan dilukai oleh kawanan perampok bersenjata api, perampoknya lolos padahal saat itu ada polisi. Tapi polisinya hanya bawa tongkat T?
    :-) Apakah anda akan berkata hal yang sama?

    @Adecapunk: Saat tanggal sidang, kami mengirim barang bukti ke pengadilan untuk proses persidangan. Jadi apabila lewat tanggal sidang, anda bisa mengambil barang bukti yang disita oleh negara di Pengadilan.

    BalasHapus
  33. Dari Jimnybiru
    Salut buat pak polisi yang satu ini

    "keep up the good work"

    Pak saya mau menayakan pasal atau UU yg berlaku yang menyatakan masih berlakunya "surat tilang slip biru" karena setahu saya ini banyak menjadi pertanyaan semua orang apakah masih berlaku atau tidak, bahkan sempat salah satu pejabat tinggi POLRI mengatakan di salahsati TV swasta bahwaitu sudah tidak berlaku lagi

    Terima Kasih

    BalasHapus
  34. selamat siang pak..

    saya diaz...

    nah saya jadi bingung nih pak....

    kalo ambil barang bukti tilangan tuh sebenernya d polres atau d kantor satlantas sih???

    knpa terkadang juga saya langsung di beri surat merah padahal saya sudah mengakui kesalahan saya...

    terus ada juga pak polisi yang saya hanya tidak pakai helm..
    tapi pasalnya kq ada bnyak ya pak?!?!

    bisa tolong diberi tahu kan pasal-pasal yang biasa di berikan ke pada pelanggar lalu lintas pak??

    biar kami selaku pengguna jalan raya tidak di bodohi lagi...

    karena kami tidak tahu pasal-pasal yg di kenakan...

    terima kasih pak...

    BalasHapus
  35. knapa sieh pa saya pake knalpot racing di tilang??
    sedangkan tni yng bareng sama saya percis lagi pke knalpot racing ga di tilang??
    terus depan rumah saya kan jalan eh malah liat polisi pke knalpot racing.
    saya mohon kebijaksanaanya.

    BalasHapus
  36. gini mas,.....
    kok masih banyak aparat yg melakukan razia secara sembunyi2.......
    atau tepat nya razia di tikungan....

    itukan bisa membahayakan keselamatan pengendara...

    BalasHapus
  37. halo pak, polisi spt bapak yg banyak dirindukan masyarakat maaf klo lebay hehehe
    sy pernah ditilang sm perintis trus sy minta surat tilang katanya nanti dikantor tapi, setau saya klo perintis menemukan pelanggaran lalulintas kan harusnya dibawa ke pos polantas, karena STNK saya sdh dipegang ya sy terpaksa mengikuti tp ujung2 nya minta duit, apa yg harus sy perbuat dgn kondisi spt itu apa sy bisa pake acara mengancam? trus lapornya kemana?

    BalasHapus
  38. @Rauf: Walah... hari gini, anda masih menemui polisi nakal.. SIKAT aja pak! Hafalkan namanya, bet lokasi polres nya. Laporkan ke porvost polres tersebut!

    Itu masih gaya lama pak, pegang STNK, lalu disuruh ikut ke pos. Kalau anda memang merasa saah, segera MINTA surat tilang, katakan, "PAK!!! SAYA WARGA NEGARA YANG PATUH HUKUM! SAYA MAU URUS SENDIRI KE PANGADILAN!"

    Saya tantang rekan2 yang baca tulisan ini!

    Kalau semua pelanggar berkata seperti itu, saya yakin tidak akan ada lagi namanya pungli di jalan...

    PUNGI DIAWALI SAAT PETUGAS PENEGAK HUKUM MENDENGAR KALIMAT... "Damai aja yah pak? Bapak baik dech..."

    BalasHapus
  39. Halo pak Polisi.....
    saya cuma mau tanya : apakah ketika melakukan razia kendaraan bermotor Polisi juga di lengkapi dengan surat tugas? seperti apa?
    terimakasih.

    BalasHapus
  40. bapak2..jika berkenan, liat tulisan saya di kaskus
    http://www.kaskus.us/showthread.php?p=194685783&posted=1#post194685783
    saya sadar,bahwa hukum bersifat fictie(tau g tau harus tau,mau g mau harus mau), tapi penegakan hukum harus disertai sikap mengayomi aparat polisi(saya sangat optimis begitu saya membuka blog ini-yg saya dapat link-nya dari kaskus jg-). karena bagaimanapun juga, kita tidak bisa memaksa tiap warga negara membaca dan menghapalkan KUHP pengguna jalan raya/UU no.28th1997(hehe..)
    saya akan mencoba melapor k provost polres setempat atas kasus yg adik saya alami,tp apakah tidak menutup kemungkinan adanya "konfrontasi" antara pihak pelanggar&penegak hukum pak?
    saya berdoa agar QUICK WINS benar2 terlaksana dan Bpk Iptu nae gaji..hihihi...(maap,pak...,selepas dikepalai Bp. Didi Widayadiinstansi saya duluan dpt remunerasi)
    blog ini sudah saya Bookmark,pak.
    dan saya minta izin kp Bapak untuk memberi link k blog Bapak ini di Thread saya.
    saya cinta Indonesia

    BalasHapus
  41. @iphunk: Kalau razia stasioner harus membawa surat perintah. Tapi kalau razia mobiling/ditemukan saat petugas sedang jaga atau patroli tidak perlu. Bentuknya seperti sebuah surat, diketik, ada nama petugas yang diperintahkan, dan ada tanda tangan yang memerintahkan razia tersebut.

    @Rudy: Konfrontasi sangat mungkin pak, apabila pelanggar tidak merasa bersalah. silahkan lakukan di pengadilan, protes sama hakim, hakim akan memanggil petugas yang menandatangani surat tilang bapak.

    BalasHapus
  42. pak polisi YTH

    Kemaren saya melanggar marka rambu , begitu saya minta slip biru karena saya mengakui kesalahan ,katany saya pasti disuruh membayar RP 500 rebu , apakah benar , daripada saya bayar 500 rebu mendingan saya minta slip merah untk sidang .. maslahnya bikin sim baru aja ga sampe segitu

    BalasHapus
  43. pak, tadi saya kena tilang gara2 stnk belum diperpanjang, jadi pelat nomernya udah kedaluarsa. trs polisinya bilang kendaraan saya (motor)harus disita. Itu betul ga pak?
    Trs setelah saya adu argumentasi terus, pak polisinya nawarin titip uang sidang ke dia nya, trs dia bilang uang denda 150rb, itu bener ga pak? soalnya jujur saya udah ga mau lagi "damai2an" pak. Jadi saya bayar uang 150rb ke polisinya. mohon pencerahannya, supaya bisa jadi pelajaran juga..sebelumnya makasih, semoga GOOD COP seperti bapak semakin banyak di dunia perpolisian INDONESiA.

    BalasHapus
  44. pak, tadi saya ditilang gara2 belum perpanjang stnk, jadi plat nomernya udh kedaluarsa. Polisinya bilang motor saya harus disita. itu benar ga pak? lalu setelah debat2, akhirnya polisinya nawarin buat nitip uang denda ke dia sebesar 150rb, apakah itu betul pak?, karena jujur saya udah ga maau damai2an lagi, maka saya bayar uangnya. Tapi herannya kok saya ga dikasih bukti udah bayar ya pak. mohon pencerahannya..

    BalasHapus
  45. Slamat malam, Pak,,
    saya sebenarnya tidak sedang ada masalah dengan "tilang",namun saya cukup tergelitik untuk ikutan nimbrung setelah tadi membaca beberapa thread dari forum sebelah mengenai "tilang" ini. Saya orang teknik sipil, jadi saya sangat setuju jika transportasi kita teratur,tertib, nyaman lah pokoknya,,hehehe.., karena saya juga merasa sangat tersinggung jika peraturan2 yang kami buat dengan susah payah dilanggar begitu saja...

    Saya cuma mau ngomong beberapa hal saja (kalo boleh)
    1. mengutip kata2 Bapak :
    "Kalau semua pelanggar berkata seperti itu, saya yakin tidak akan ada lagi namanya pungli di jalan..."

    kenapa Bapak hanya melihat hal ini dari pihak masyarakat saja??
    Kenapa Bapak tidak "menantang" rekan2 Bapak juga untuk berlaku jujur??
    karena hal ini tidak kan bisa diselesaikan dari satu sisi saja,,
    coba saja anda para "aparat negara" tidak mau menerima "uang haram" tersebut??selesai juga kan??
    Apalagi kita tahu masyarakat terdiri dari berbagai karakter/tingkat pendidikan/dll,,yang belum tentu semuanya memahami pentingnya peraturan,,mestinya para aparat lebih pinter lah,kan "berpendidikan"??.

    2. Sebelumnya saya minta maaf kalo Bapak tersinggung,
    kalo Bapak bilang kerjaannya capek, berpanas2,,lha,,bukannya hidup itu pilihan Pak??kalo kita tidak akan puas/ tidak setuju dengan itu kenapa kita pilih??Saya yakin Bapak tidak masuk kepolosian hanya coba2 saja, tanpa tahu/mncari tahu apa yang akan terjadi??
    Jadi, menurut saya tidak ada alasan untuk para aparat untuk bertindak emosional dan tidak profesional,apalagi saat bertugas di lapangan??atau menurut bapak wajar??

    3. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bahas, tapi saya sudah terlanjur Muak dan Kasihan,,Muak akan citra instansi Bapak di Masyarakat, skaligus kasihan orang2 yang JUJUR, mungkin termasuk Bapak..:), menjadi korban umpatan masyarakat, termasuk saya...

    Thanks for reading this...Keep fighting for better Indonesia!!!

    BalasHapus
  46. nama :joko di surabaya
    pertanyaan:
    -.pak saya mau memperpanjang sim disurabaya,ktp saya surabaya,tp saya sekarang tinggal dilain polres tp tetap disurabaya,bisakah saya memperpanjang sim?

    BalasHapus
  47. @anugrah: Berhubung sistem Satpas belum online jadi apabila anda mau memperpanjang SIM harus di Satpas dimana SIM tersebut diterbitkan. Karena di Satpas itulah letak berkas anda disimpan.

    BalasHapus
  48. mas bratasena,

    saya mau tanya.

    sesuai dengan UU no 22 tahun 2009, jika melanggar rambu lalu lintas maka akan dikenakan denda MAKSIMAL sebesar 500 ribu.

    jika misalkan saya mengakui salah kemudian saya mendapatkan slip biru. apakah petugas yang menilang akan menuliskan angka 500 ribu? padahal sudah jelas-jelas saya sudah mengakui salah tapi kenapa tetap harus dikenakan denda maksimal?

    menurut saya denda maksimal ini juga bisa rawan dengan kesempatan untuk dilakukan korupsi.

    BalasHapus
  49. Selamat pagi/siang/sore/malam Pak Bratasena yang saya hormati!

    Pagi ini saya ditilang karena melanggar marka jalan. Saya mengaku salah, sudah menerima slip biru (walau belum menerima slip gaji - curhat dikit Pak) dan siap membayar denda yang dituliskan.

    Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kalau ditilang di Jakarta petugas di lapangan akan menunjukkan tabel nominal pelanggaran yang cukup mahal (nominal maksimal UU 22/2009). Walaupun berat, saya terima nominal itu. Setau saya jika saya ingin menerima keringanan saya sebaiknya menjalani persidangan setelah membayar di BRI ya Pak.

    Tadi sebenarnya saya ingin mengambil foto tabel tersebut dan juga foto petugas di lapangan untuk saya share di blog saya agar kawan-kawan pembaca dapat belajar dari pengalaman saya. Namun mengapa petugas tersebut tidak mengizinkan ya Pak? Petugas benar-benar tidak mau dan selalu berkelit dengan alasan privasi. Walaupun hanya mengambil foto tabel tersebut tanpa foto petugas ternyata tidak diizinkan juga. Saya sudah menjelaskan bahwa saya justru ingin membantu sosialisasi peraturan tapi polisi tersebut tidak mau menerima alasan saya dan bersikeras melarang saya memotret lembar tabel tersebut. Kenapa tertutup sekali ya Pak? Ini malah lebih bikin saya penasaran daripada soal tilangnya.
    Jika Bapak berkenan mohon menanggapi tulisan saya tentang pengalaman tilang yang dulu saya alami di blog saya Pak: http://wordyness.wordpress.com/2010/05/30/pengalaman-berkali-kali-mengalami-penilangan/
    Terima kasih banyak Pak, terima kasih telah menjadi polisi yang merakyat. Selamat bekerja. :)

    BalasHapus
  50. @dudi: Dalam perkap yang terbaru (Peraturan Kapolri), apabila ada pelanggar yang memilih alternatif bayar denda di bank, maka petugas akan menerapkan denda maksimal yang ditetapkan oleh UU. Tawar menawar besarnya sanksi dapat dilakukan di pengadilan.

    @wordyness: Kalau mau keringanan, datanglah ke sidang, dan nego lah dengan bapak hakim.

    Untuk masalah foto, saya minta maaf, karena saya mewakili petugas di lapangan yang agak sedikit alergi terhadap kamera...

    Karena... jangankan perbuatan salah, perbuatan benar seorang Polisi saja bisa diputarbalikkan maknanya di media massa...

    Sudah nyata-nyata benarpun, seringkali diserang oleh Komnas HAM-HAM-dan HAM lagi...
    Padahal kalau diingat2, 90% tugas Polisi itu memang harus menginjak-injak HAM, untuk menegakkan hukum serta mewujudkan ketertiban.

    Contoh kecil, menghentikan kendaraan untuk menyeberangkan anak sekolah, ini adalah pelanggaran HAM bagi pengendara sepeda motor.

    Lalu contoh besar, Polisi membubarkan pengunjuk rasa yang berunjuk rasa di jalan satu-satunya menuju salah satu Rumah Sakit , ini menginjak HAM para pengunjuk rasa, namun dilakukan Polisi demi menegakkan UU Unjuk Rasa, yang melarang Unjuk Rasa dilakukan di depan/sekitar obyek-obyek vital karena akan mengganggu pelayanan publik.

    Jadi kami mohon maaf atas penyakit alergi kami petugas di lapangan ini, terhadap kamera.

    Lain waktu, bicarakan dahulu kepada petugas maksud dan tujuan anda dalam mengambil gambar. Kalau memang anda bertujuan baik, perkenankanlah petugas memotret balik anda dengan HP nya, jadi apabila ternyata kelak keluar di media massa sesuatu yang berkebalikan dengan fakta dilangkapi foto petugas, maka petugas akan tahu dia harus mencari siapa untuk menjernihkan masalah.

    BalasHapus
  51. P Bratasena, dari tanggapan Bp untuk dudi, Bp mengatakan jika pelanggar memilih alternatif membayar di bank, maka denda maksimal yang akan dikenakan. Saya melihat ada kecenderungan untuk "memaksa" pelanggar untuk "mengikuti" persidangan atau bahkan lebih parah lagi untuk "damai" dengan petugas yang menilangnya. Mohon tanggapan Bp dan mohon link dari peraturan kapolri mengenai hal tersebut. Thx a lot.

    BalasHapus
  52. mas bratasena,

    ini artinya jika ada pelanggaran lantas yang dilakukan oleh pengendara secara tidak sengaja dan pengendara sudah mengakui kesalahannya dan pengendara meminta slip biru kepada polisi maka akan tetap dikenai denda/sanksi sebesar 500rb?

    memang UU lantas 22/2009 ini jauh lebih berat daripada uu lantas 14/1992. tapi kalau sanksi/dendanya sangat berat seperti ini tentu saja akan jadi celah bagi oknum polisi untuk memanfaatkan 'uang damai'.

    seharusnya jika memang sudah ada pengakuan untuk lgsg setor ke negara hukumannya harus lebih ringan.

    saya kurang tau bagaimana implementasinya, tapi kemungkinan besar ini akan dijadikan celah oleh hampir sebagian besar oknum polisi.

    BalasHapus
  53. mas bratasena,

    kalau posting saya kurang sesuai silakan dihapus.UU Lantas No 22/2009 memang sudah disahkan. dan saya cuma mau berkomentar bahwa UU ini rawan untuk diplintir atau dijadikan oleh para oknum polisi untuk mencari uang damai.

    Saya bilang oknum ya mas, bukan polisi secara menyeluruh. Semoga semakin banyak polisi yang tidak jadi oknum seperti ini dan semoga semakin banyak pengendara yang mau sadar dengan lalu lintas.

    BalasHapus
  54. @dudi1: memang ke depan pelanggar akan kami paksa untuk ke pengadilan. Tujuannya adalah menimbulkan "efek jera", bukan meningkatkan pendapatan negara. Kalau tujuannya untuk menguras kantong rakyat, Polisi saat ini mungkin sudah dibekali dengan EDC bank untuk menerima titipan denda dengan ATM atau kartu kredit.
    Dalam hukum, yang namanya celah itu selalu ada, tergantung kekuatan iman masing2. Imannya petugas, dan imannya pelanggar. Kalau salah satu ada yang lemah, proses pungli petugas/suap dari pelanggar bisa terjadi.

    @dudi2: posting yang mana pak?

    BalasHapus
  55. @keu18: "Petunjuk Teknis Kapolri No Pol: SKEP/443/IV/1998, tanggal 19 April 1998 tentang Penggunaan Blanko Tilang"

    BalasHapus
  56. mas bratasena, juknis kapolri yang anda sebut bisa diupload gak? saya cari di google tidak bisa menemukan file tersebut.

    sepertinya cukup bagus untuk dibaca dan dipahami biar tidak dikadali oleh oknum-oknum.

    BalasHapus
  57. @dudi: maaf pak Dudi, sampai saat ini belum ada, kami mencari juknispun masih manual, menghubungi pusat untuk diirimkan hardcopy nya.
    Kalau tidak mau dikadali, saran saya agar anda berusaha saat kadal-kadal mengincar anda tidak melakukan pelanggaran sedikitpun... Kalaupun anda tertangkap melanggar, anda segeralah berubah menjadi buaya, dengan bersikeras meminta surat tilang, jangan damai di tempat, niscaya kadal-kadal yang anda maksud akan takluk kepada keberanian buaya yang anda keluarkan nanti... :-D

    BalasHapus
  58. mas bratasena, hahahaha, kalo buaya pasangannya sama cicak mas, bukan sama kadal :D.

    pada prinsipnya aku setuju pendapat sampeyan, tapi akan lebih baik kalau aku tau detil isi juknisnya, jadi gak sekedar njeplak. begitu juga petugas.

    tapi memang bener kata sampeyan, klo gak mau dikadali oknum ya berarti pengendara harus taat rambu2 lalu lintas, otomatis oknum juga tidak akan berani bertindak yang aneh-aneh.

    BalasHapus
  59. 1.saya sudah telanjur ditilang dengan pasal 293 karena lupa memakai lampu di malam hari,,dan ditilang..ketika itu saya langsung minta slip biru tapi tidak dikasih sama polisi,,trus dikasih warna merah,,,yang saya tanyakan bagaimana solusi selanjutnya dan berapa denda saya?

    2.di dalam pasal tersebut mengatakan bahwa denda maksimal Rp.250.000, apa saya bisa nego nanti dipengadilan dan kalo tidak bisa dan harus membayar denda maksimal,faktor apa yang menyebabkan denda saya menjadi maksimal?

    3.trus saya pernah lihat di internet katanya sim kita bisa di ambil tanpa mengikuti hari sidang dan membayar langsung denda di loket tersedia..apakah itu benar?

    4.muncul di benak saya kalo toh saya mendapat denda maksimal...lebih baik saya gk usah tebus sim saya ..dan bikin baru saja ..mengengingat harganya lebih murah...bagai mana tanggapan anda...trama ksih sebelumnya

    BalasHapus
  60. @rizky: 1. Besar denda tertulis di lembar tilang oleh petugas di sisi pojok kanan atas.

    2. Di pengadilan anda bisa minta keringanan kepada hakim. Faktor perintah pak, polisi diwajibkan menulis denda tertinggi dalam UU di lembar tilang.

    3. Betul, di internet, di blog saya, tepat di halaman ini. Scroll ke atas dengan perlahan, cari bagian penyelesaian tilang Alternatif I.

    4. ada koneksi antara pengadilan dengan kepolisian, apabila BB SIM tidak diambil, maka akan diberi catatan kepada Polisi, nama dan nomer SIM untuk di kunci di Satpas setempat, sehingga tidak dapat menerbitkan SIM dengan alasan hilang ataupun membuat baru.

    BalasHapus
  61. pak nanyalg yah tolong direspon
    1.saya kan sudah kena tilang dan dapat slip merah trus tanggal sidang tgl 7,,trus kata anda bisa ditebus sebelum tgl sidang,,yang saya tanyakan datng kemana saya kalau mau begitu?

    2. dan dendanya apa sama atau lebih mahal kalo di tebus sebelum sidang??kalo hari sidang kan yang menentukan denda hakim,, kalo sebelum sidang siapa yang menentukan dendanya pak?

    3. dan ketika saya menunggu hari sidang?apakah nanti saya bisa ditilang lagi, kalo saya mengalami razia,karena saya mengendarai motor tanpa sim,karena sudah ditilang sebelumnnya?

    4.dan apakah ada sanksi kalo kita memakai plat nomor yang bukan berasal dari polisi, melainkan kita modif,,dengan kata lain dari fiber glass atau yang lainnya,,..toh fungsinya sebernarnya kan sama saja??

    maaf terlalu banyak pertanyyaan ...dan apakah anda siap ketika saya menelepon ke hp anda dengan nomor tlp yang anda berikan di blog ini, apabila saya mengalami tilang lagi,,,hanya untuk konsultasi biar tidak dikadali oknum2...trimakasih sblmnya...

    BalasHapus
  62. @rizky:
    1. H-2 atau H-1 Tilang dan BB diserahkan ke pengadilan. Kalau anda mau selesaikan tanggal 5, silahkan datang ke satuan lalu lintas yang telah menilang anda.
    2. Tidak sama, penyelesaian di Bank umumnya menggunakan keputusan hakim yang paling tinggi yang pernah diputuskan, atau ketentuan yang telah disepakati di wilayah tersebut antara Pengadilan, Kejaksaan, dan Kepolisian. Masing-masing wilayah berbeda, kalau mau murah, minta keringanan kepada hakim, kalau mau gratis, jangan melanggar.
    3. Ditilang pak, tapi nanti yang disita adalah STNK. Kalau tidak bawa STNK, kendaraan yang disita. Selama ditilang, pengendara tidak diijinkan mengemudikan kendaraan, gunakan kendaraan umum.
    4. Kalau mengikuti kemauan anda, pasti akan ada yang membuat pelat nomor seukuran papan tulis karena bangga dengan nomor nya, atau mungkin ada yang membuat seukuran ibu jari dengan bahan terbuat dari emas putih. Tujuan dibuat peraturan adalah untuk keseragaman, mohon ikuti saja aturan main di jalan yang sudah dibuat oleh wakil rakyat di DPR sana, mereka pasti sudah memikirkan yang terbaik sebelum membuat UU. Apabila kurang setuju dengan aturan, silahkan ajukan usul kepada yang membuat peraturan.

    Maaf pak, sarana kontak saya tertulis jelas "SMS" bukan untuk "Telepon" pak.

    BalasHapus
  63. malam pak, terus terang bingung masalah tilang ini, pas nyari2, eh nemu blog bapak ^^
    baru aja tadi kena tilang. ceritanya saya pulang dari acara, pas kebetulan ada teman yg searah, jd sy mbonceng ga pake helm, toh temen sy itu emg pas mo beli helm baru, jadi pikir kita, sekalian. eeh, belom sampe tempat beli helm, ketilang ^^ kebetulan macet, jd pas kita mo minggir, nyari jalan, malah dikira mo kabur :( dipegang lah tangan temen saya agak keras gt, temen saya emosi, jadi agak bentak2an jg deh. begitu masuk, polisinya gualak banget, dipanggil 'mas' aja ga mau, katanya orang palembang -_- berhbung temen masih emosi, sy yg ngajak ngobrol deh, trus bilangnya: 'ya kalo mau bantu ya situ jgn nanya ke saya dong, ini liat, dendanya 250rb', naah, berhubung sy jg ga tau kalo tilang itu hrs bayar berapa, sy kasih 25rb deh, eh, dia lgsg nulis slip biru dan maksa temen sy tandatangan. lah kita bingung dong, ga mau ttd. eh, si polisi ini nandatanganin bagian yg hrsnya temen sy yg ttd. trus uda lgsg diusir2 keluar gitu, sy liat disana 250rb, bayar ke bri. itu sampe saya ketok2 lagi pintu tempat si pak polisinya, mo nanya gimana bayarnya, mana mereka uda liat sy ketok2 aja lama banget ngasi masuknya. haih..
    yang pengen saya tanyakan:
    1.apa boleh gitu, polisi lgsg nulis slip biru dan waktu kita belom mau tandatangan, si polisi memalsu ttd kita?? pdhl kan bisa aja kita mau minta sidang.
    2.nah, berarti kan masuk ke alternatif 1 ya pak. berhubung ini hari sabtu, besok minggu, bank ga buka. bisa ga sih ke polresnya dan bayar di sana? kl sy baca di alternatif 1 bpk tulis bisa kan ya? soalnya kita kerja kantoran dan kl bayar bank berarti kan hrs ijin2 keluar segala..

    kalo masalah uangnya sendiri, biarpun pertamanya ga rela *gimana2 kan aslinya emg mo beli helm, makanya sy pikir gpp lah, toh cm 200 meter an paling.* akhirnya sih ya uda lah, rela, toh masuk uang negara (kalo kt temen sy, daripada ngasih tu polisi mending buat negara. hehehe. masih jengkel dia dibentak2 ama tu polisi), tp yang bikin dongkol tuh polisinya itu lho pak. apakah mentang2 pas sekolah jadi polisi sistemnya militer gitu, trus ama kita2 jadi bentak2 gitu? trus kita nanya baik2 kok malah lgsg dipalsu ttd nya dan diusir2 pergi??? lah ini beneran ga tau gimana prosedurnya lhoo >.<

    tolong dijawab pertanyaannya ya pak. sisanya anggap aja curhat saya. hehe. thx

    via

    BalasHapus
  64. Selamat siang Pak..maaf apabila merepotkan..saya ingin bertanya mengenai tanggapan Bapak

    3. Ditilang pak, tapi nanti yang disita adalah STNK. Kalau tidak bawa STNK, kendaraan yang disita. Selama ditilang, pengendara tidak diijinkan mengemudikan kendaraan, gunakan kendaraan umum.

    Kemarin saya baru kena tilang..
    Nah kata Pak Polisi yg ada di pos polisi katanya surat tilang tersebut bisa dijadikan bukti kalau saya memiliki SIM apabila saya di jalan saya kena razia..

    Kena berbeda dengan komentar Bapak diatas ya Pak?

    Mohon Informasi lebi jelasnya ya Pak karena saya bingung..saya kemarin kena tilang pun bingung karena sudah lama tidak jalan di tempat tsb dan hanya mengikuti pengendara motor di depan saya..tetapi kok malah sy yg apes kena tilang sedangkan pengendara yg di depan saya malah dikasi lewat saja tidak disuruh meminggirkan motornya untuk diberikan penjelasan lebih lanjut dari Pak Polisi

    Mohon jawabannya ya Pak..Terima Kasih..

    BalasHapus
  65. Pak Bratasena, meneruskan mas rizky yang point 1,
    bapak sampaikan kalau mau diselesaikan sebelum sidang, bisa datang ke satuan lalu lintas yang telah menilang...
    Ini di polsek atau polres pak?
    Kemudian, karena bukan sidang, uangnya nanti masuk ke satuan lalu lintas atau kas negara?

    Terimakasih...

    BalasHapus
  66. @fr33: Namanya pelanggar kalau sudah ketangkep akan ada sejuta alasan pak. Kalau memang sudah tahu naik motor dilarang tanpa helm, yah jangan dilakukan pak. 1. Polisi itu kurang tepat tindakannya, karena dia lupa bahwa pelanggar tidak wajib menandatangani slip tilang. Kalau tidak ditandatangani artinya pelanggar ngotot merasa gak bersalah, maka ia akan dapat slip biru+merah. Nanti diterima oleh sidang sebagai palanggar yang komplain, bisa diadakan pra peradilan terhadap petugas yang menilang. (dipertemukan antara pelanggar dengan petugas penilang), 2. Minggu silahkan bapak datang ke satuan yang menilang bapak.

    @Erwin: Prosedur kalau sudah SIM sudah disita pelanggar tidak boleh membawa kendaraan bermotor. Namun di lapangan polisi banyak melakukan toleransi, apabila menunjukkan surat tilang yang masih hidup (belum lewat tanggal sidang) umumnya langsung dibiarkan jalan.

    @zezo:Di lembar tilang ada stempel kesatuan di pojok atas. sebagai contoh, "Satlantas Polrestabes Surabaya", berarti yang menilang anggota Polrestabes Surabaya, barang bukti dan tilang ada di Polrestabes sebelum tanggal sidang. Contoh 2: "Polsek Wonokromo", berarti yang menilang anggota Polsek Wonokromo, barang bukti dan tilang ada di Polsek Wonokromo 3 hari sebelum tanggal sidang, karena setelah itu akan diserahkan kepada Polrestabes semua lembar tilang dan barang bukti yang disita.
    Kalau masalah uang denda itu masuk ke kas negara. yang tidak masuk ke kas negara adalah apabila anda ditilang, tapi tidak diberi lembar tilang. Apabila anda sudah diberi lembar tilang, namun kemudian memberi uang kepada petugas, kemudian petugas mengembalikan barang bukti yang telah disita, itu uang tetap saja ke negara, namun pak polisinya yang bawain uang tersebut ke pengadilan. Untuk rekan-rekan semua, hindari menyerahkan sejumlah uang tanpa diberi lembar tilang, karena rekan-rekan akan masuk ke dalam tsk pelaku penyuapan terhadap petugas.

    BalasHapus
  67. Pak Bratasena,kalau kita minta form biru tidak dikasih,tetep dikasih yg merah saja apa kita bs melaporkan oknum polisi trsebut?kalau bisa lapor kemana kalau yg nilang kita PJR JATIM XII LAMONGAN?

    BalasHapus
  68. pak. bratasena, saya mau bertanya, berapa sih uang denda yg harus kita bayar jika kita hanya melanggar lampu merah, dan menerima forum biru!

    BalasHapus
  69. @mantapppp...!: Pasal 287 ayat 2:Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

    BalasHapus
  70. PP 42 tahun 1993 tentang PEMERIKSAAN KENDARAAN DJALAN Bab III, Pasal 12 s/d 16>>>>>>> apa yang hrs saya lakukan bila melihat POLANTAS praktek dijalan tanpa memenuhi salah satu ketentuan dr PP tersebut, praktek ini (KEBANYAKAN HSLNYA DAMAI & MILIH2 KENDARAAN) biasa dilakukuan di bawah Patung Pancoran - JakSel setiap Sabtu Siang dan di daerah Persimpangan 66 Kuningan Jakarta Selatan menjelang makan siang, >>>>>> MAKASIH ATAS PENCERAHANNYA.

    BalasHapus
  71. Pak Brata,

    Sedikit menggaris bawah i tentang sesuatu yang menjadi sangat sentral disini, yaitu "EFEK JERA"..
    saya akan mengajak bapak diskusi soal ini,..
    Seakan2 memang sengaja birokrasi mengurus tilang di buat sedemikian rumit, lama dan butuh perjuangan (Ngadepi calo sidang, ngantri berdiri di ruan sidang dll) HANYA UNTUK MEMBUAT para Pelanggar JERA..

    Padahal :
    1. Yang bisa kita lihat dari prinsip ini tepat atau tidak adalah hasil, mulai dari saya orok sampai sekarang ya seperti ini, adakah penurunan tingkat pelanggar lalu lintas? Adakah datanya yang menunjukkan itu? Kalo ga ada Ya artinya system dibuat seperti ini untuk efek jera adalah (*maaf) BULLSHIT
    2. Justru kalo menurut saya Polisi membuat sistem yang mempunyai kesenjangan seperti ini untuk celah terjadinya penyimpangan, untuk (*maaf) membiarkan jajaran bawah (polantas) bisa menerima suap dan berhenti mengeluhkan pendapatan resmi mereka yang kecil, dan tetap mau bekerja giat di lapangan (kalo ga gitu ga makan.. :-).. karena apa secara nalar siapa yang mau begitu susah2 mengurusi sidang yang rumit, bahkan lebih mahal, dengan sekedar damai, yang cepat dan murah.. ini yang saya maksud kesenjangan. Seakan2 Polisi menunjukan jurang yang dalam, kalo mau idealis, ya sana makan tuh sidang panas2 antri, mahal lagi, kalo mau nyante cepet, sini bro, bayar2 dikit lah ke gue.. 
    3. Yang paling penting, menurut saya ini adalah SALAH SASARAN.. kenapa? Karena, sebagian besar orang yang bersusah susah mau sidang, mau berpanas2an adalah orang2 yang idealis tadi, orang2 yang nasionalisme tinggi tidak mau menyuap, apakah orang2 seperti ini yang kita katakan ‘ndableg’ yang akan mengulangi kebiasaan melanggar lalu lintas, yang perlu kita susah2kan agar ‘JERA’???.. Dan Sebaliknya ke khawatiran kalo di buat mudah tinggal bayar, maka orang2 kaya memilih bayar denda daripada menaati aturan. Benarkah anggapan ini?. adakah kita lihat anak2 orang kaya/anak pejabat/artis mengantri untuk sidang tilang? Saya yakin mereka2 ini pasti memilih “jalan damai” atau kalo terlanjur sakit hati sama polantasnya minta surat tilang pasti nyuruh orang lain suruhannya untuk mengantri, JERAkah orang2 seperti ini?????....
    Bagaimana Pak Brata????

    BalasHapus
  72. @ab9116: Dokumentasikan penyimpangan yang bapak maksud, dan laporkan ke Provost satuan setempat.

    @joko:
    1. Penurunan pelanggaran lantas akibat ditilang, jelas ada; Datanya terlihat langsung secara kasat mata, silahkan lihat Kota Surabaya, tidak ada lagi yang pakai Helm proyek/pabrik, tidak ada lagi motor yang pakai spion hanya satu, dan sangat jarang knalpot berisik (kami tidak tahu di kota anda); Emosi boleh, namun mohon tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan disini pak.
    2. (Saya tidak melihat pertanyaan, hanya paragraf pernyataan/opini anda pribadi)
    3. Saya coba memilah2 pertanyaan anda yang bercampur baur dengan opini.
    - Urusan anda dibuat sulit saat sidang, itu bukan urusan Polisi pak, itu sudah masuk pelayanan Pengadilan. Mohon dibedakan, kalau anda dibuat sulit di Pengadilan, silahkan ajukan komplainnya disana. Polisi menilang anda dengan lembar tilang itu sudah benar (jaman dulu masih banyak bad cop menilang tidak pakai lembar tilang)
    - Bagaimana anda bisa yakin kalau artis dan anak pejabat pasti memilih jalan damai? Apakah anda punya kenalan/referensi dari ybs?
    - Jera'kah orang ini? Silahkan anda jawab sendiri, setelah ditilang, apakah anda jera? Apakah anda ingin ditilang lagi?

    BalasHapus
  73. Pak Brata,
    Maaf sebelumnya, kata2nya kelihatan kotor karena bhs inggris, padahal kalo di indonesiakan artinya Cuma omong kosong… 
    1. Kalo soal Helm SNI, spion harus 2, knalpot, itu perubahan bukan gara2 tilang lalu lintas pak, tapi itu Karena kebijakan , dulu helm biasa boleh, karena ada aturan harus SNI ya masyarakat menyesuaikan (Baca terpaksa) kasus lainnya sama.. Maksud saya data seperti ini :
    http://cetak.kompas.com/read/2010/09/24/13513081/Pelanggaran.Lalu.Lintas.Tol.Cenderung.Meningkat.
    http://www.maduranews.com/2011/01/pelanggaran-lalu-lintas-di-sumenep-8730.html\
    http://www.antarajatim.com/lihat/berita/52154/jumlah-pelanggaran-lalu-lintas-di-madiun-meningkat
    2. Mungkin juga berkaitan dengan yang nomer 3, Maksud yang saya mau sampaikan disini adalah saya tidak bisa menerima logika bapak di komentar di atas menjawab Lily “Memang sengaja dibuat demikian mbak, namanya tilang akan dibuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek jera. Apabila dibuat mudah, maka akan memudahkan golongan tertentu, misalkan golongan orang mampu yang membunyai kartu ATM atas bank tertentu, sedangkan masyarakat golongan bawah dipaksa untuk hadir ke sidang. Hal ini akan menimbulkan masalah yang baru mbak”.
    Ini yang seakan2 bapak berretorika ingin membela kaum miskin bahwa yang miskin harus sidang, sedangkan yang kaya juga harus sidang (*Baca; Ribet), Padahal kenyataannnya mana ada orang kaya yang mau repot2 sidang. Ato seperti yang saya sampaikan kalopun sidang pasti nyuruh orang lain, referensi/bukti????? Ayolah pak jangan sok2 membutakan diri…. Mana ada anak pejabat/artis yang mau antri berjam2 kalo bisa di wakilkan.. bukan kah bagi orang2 seperti ini waktu adalah uang….???
    3. Soal jera atau tidak?... saya 2x kena tilang, gara2 nya karena rambu tidak terlihat tertutup daun, atau sengaja di taruh di daerah yang tertutup kali… hehehe..
    Bagaimana jera yang bapak harapkan dari kasus ini? Apa saya harus berhenti di tiap tikungan dan celingak celinguk cari teka teki rambu yang ada di situ? Hehehe..
    Intinya, dari sebagian besar orang2 idealis yang tidak menyuap di atas adalah, mereka melanggar karena tidak sengaja atau tidak tau seperti saya. Maka yang harus di lakukan adalah pencegahan, Tugas polisi yang utama adalah pencegahan (Psl. 19 (2) UU No. 28/1997).
    Sehingga tidak dibenarkan polisi membiarkan pengemudi melakukan
    percobaan pelanggaran, bukan ngumpet setelah rambu larangan, harusnya berdiri di depan rambu larangan dan kalo ada yang mau melanggar di ingatkan..

    BalasHapus
  74. KESIMPULANNYA :
    Sebenarnya saya tidak menyalahkan penyuap dan tersuap, karena mereka berjalan di sistem yang salah. Bagaimana bisa berjalan dengan lurus kalo kita berada di kapal yang bergoyang2.. 

    Apalagi dalam keadaan yang sulit seperti ini masih ada seorang yang seperti bapak mengkampanyekan untuk berjalan lurus, saya sangat senang, makanya mau berdiskusi lebih lanjut, masih banyak pertanyaan…
    Tapi hal yang saya tekankan :
    1. Saya ga sepaham dengan logika/pemahaman bapak bahwa system yang seperti ini sudah bagus, system yang memberi kesenjangan sangat dalam, system yang memberi ruang kepada orang2 kaya untuk bisa menyuap langsung petugas di lap, dan memberi hukuman orang2 idealis (yang tidak mau menyuap), orang2 yang tidak punya uang/cukup uang pada saat itu, hukuman untuk berdiri berdesak2an mengantri di pengadilan.
    Saya justru, sepakat agar di sederhanakan birokrasinya, seperti usul guru besar anda Prof. Dr. Irjen Farouk Muhammad yang saya baca disini http://arikbliz.multiply.com/journal/item/71/Bener_Gak_Seh_Tilang_model_baru_untuk_memotong_birokrasi_sekaligus_menekan_suap._ Oh ya saya mau Tanya ke bapak yang mungkin lebih tau, system ini tidak di terapkan kenapa ya?
    Saya selalu mengkampanyekan di tulisan2 bahwa system yang selama ini salah, saya hanya rakyat biasa, berharap jika bapak juga sepaham dengan saya bisa lebih ngefek karena bapak berada di dalam, atau harapan saya nanti suatu saat kalo bapak sudah jadi jenderal pasti lebih mudah lagi kemungkinan membuat system yang baru.
    2. Soal kampanye yang juga sering bapak tulis di atas, kalo ada yang ga beres “laporkan laporkan laporkan..” seakan akan kejahatan ini benar2 terselubung dan sulit di endus atasannya, padahal kalo saya membayangkan, misalkan provost atau apalah, menyamar di jalan dan melanggar kemudian menemukan pelanggaran yang di lakukan anggotanya dalam menindak pelanggaran tadi, pasti banyak sekali yang ketangkap dan saya yakin seyakin2nya banyak petugas yang takut (Atau jera).. hal ini pasti lebih efektif dari kampanye ‘laporkan2’ tadi, seperti yang pernah saya dengar di lakukan oleh walikota Solo Joko Widodo, ceritanya beliau persis seperti apa yang saya ceritakan, menyamar pake motor jelek, dan menemukan petugas yang mau di suap, langsung di laporkan ke atasannya dan di tindak.
    Wassalam

    BalasHapus
  75. @joko:
    1. wah, hebat banget.. Jadi bapak bilang saat ada kebijakan, tanpa ditegaskan dengan proses penilangan yang rutin setiap hari, masyarakat langsung mau nurut pakai helm full face? Mau nurut pakai spion dua? :-)

    Masalah berita di koran, itu hanya permainan judul oleh penulis pak.
    Begini yah, coba kita pilah mana objektif, mana subjektif.
    Objektifnya, data pelanggaran meningkat karena sering diadakan tilang.
    Kalau mau menilai polisi positif, maka judulnya, "Polisi semakin profesional, razia tiap hari, pelanggar yang terjaring meningkat!"
    Kalau mau menilai polisi negatif, "Pelanggaran meningkat!"
    Nah, yang paling laku dibaca atau ditonton itu yang negatif pak.
    Sekarang gini deh, data pelanggaran lantas meningkat 'kan diakibatkan karena kegiatan razia yang ditingkatkan pak? Kalau semua masyarakat Indonesia mudah disetir oleh judul media seperti bapak, mendingan polisi gak usah razia dong... Bulan depan, hasil pelanggaran langsung merosot drastis.. Dan semuapun tersenyum puas... Bukan begitu bapak?

    2. Bapak koq sewot sendiri toh pak? Proses tilang itu bisa diwakilkan koq.. Kalau bapak memang tidak ada waktu, ya dititipkan rekan/keluarga saja. Begitu aja koq repot?

    3. Coba deh baca lagi tata cara berkendara, memang diwajibkan di setiap tikungan kita harus mengurangi kecepatan untuk mengetahui situasi dan rambu yang ada pak.

    Kesimpulan? Hehehe.. Bapak kirim komentar aja pakai kesimpulan.. Kayak buat laporan dinas saja pak.. :-)

    1. Gak sepaham? Bagus pak.. Berarti benar kata pepatah, rambut boleh sama hitam, tapi isi hati siapa yang tahu? Tidak ada yang memaksakan kita harus sepaham koq pak, dan kebetulan blog saya ini fungsinya menyampaikan sesuatu yang sifatnya objektif.

    2. Bapak selaluuuuuuuuu saja menuntut dan menuntut supaya polisi memperbaiki dirinya sendiri.. Pernahkan bapak berpikir kalau semua masyarakat yang selama ini merasa dikerjai oleh polisi nakal mengadu ke provost, maka polisi yang bersih akan cepat terwujud? Jumlah provost dibanding petugas pelaksana itu jauh sekali paaaaaaak... Masak 1 orang provost disuruh ngawasin 50-150 orang sekaligus? (ter..la..lu.. (Rhoma Irama style)) Matanya cuma dua loh pak... Marilah bapak Joko.. Jangan kerjanya menuntuuuuuutttt melulu...

    Coba lihat saat bencana terjadi di Indonesia, masyarakat menuntuuuut minta ganti rugi kepada pemerintah... Udah minta tolong, pakai acara ngomel2 pula...

    Coba bandingkan dengan negara yang tidak pernah mengeluh, Jepang! Sudah hancur seperti itu, mana pernah kita dengar mereka ngomel dan mengeluh? Mereka diam, tenang, berpikir, dan langsung bertindak untuk memperbaiki yang rusak, walau rumahnya sudah luluh lantak karena Tsunami..

    Sekali-kali cobalah renungkan, mana yang lebih efektif berdiskusi dengan pulisi kecil seperti saya ini yang jauh dari kota bapak, atau langsung lapor ke provost disana?

    Mari pak.. Kurangi mengeluh dan menuntut.. Perbanyak bertindak..

    Mau polisi di kota bapak cepat bersih?
    Bantulah mengawasi polisi nakal disana, dan laporkan ke tempat yang tepat.
    Kalau lapor ke saya melulu, nanti yang tambah bagus Polisi2 di Surabaya aja dong pak? Wong saya paling mentok menasehati petugas di wilayah sini aja... Betul gak Pak?

    Wasssssssssalammm....

    nb: btw anywy bswy... terima kasih loh pak saya sudah di doa in jadi Jenderal.. :-)

    BalasHapus
  76. terima kasih atas artikelnya sangat bagus,menarik & bermanfaat
    salam kenal & sukses selalu
    penerjemah bahasa jerman
    penerjemah bahasa belanda

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

KOMENTAR, PERTANYAAN, SARAN, KRITIK

Apresiasi terhadap blog ini, kesan dan pesan kepada penulis silakan tulis di "BUKU TAMU"

Pertanyaan, Komentar, Kritik, silakan tulis di www.facebook.com/penulisblogpelayanmasyarakat

Facebooker yang menyukai blog ini

Terima kasih untuk jempol(like)-nya yah rekan-rekan.. Senang bisa berbagi..

Kecelakaan Diawali Pelanggaran

Loading...