Selamat datang di blog saya!

Topik yang kita bahas kali ini adalah :

Kelas Jalan

Dalam milis 'polantas_menjawab@yahoogroups.com' yang kami asuh, beberapa pekan yang lalu ada rekan yang menanyakan, bahwa di dekat lingkungannya dia menemukan rambu berbentuk lingkaran, warna dasar putih, dengan warna garis tepi merah, dan ada angka II di dalamnya. Rambu apakah itu?

Kami sudah langsung meresponnya, dan berikut akan kami sampaikan kepada rekan-rekan semua bahwa rambu tersebut masuk kategori Rambu Larangan, yang mengatur mengenai KELAS JALAN.

Jalan dibagi dalam beberapa kelas, dibuat untuk melindungi masyarakat di sekitar jalan tersebut, ketahanan material jalan, dan bagi pengendara itu sendiri.

Kelas jalan dibagi menjadi 5 menurut PP No. 43 tahun 1993, kelas jalan I, II, IIIA, IIIB, dan IIIC.)*


Berikut langsung saya tampilkan dalam bentuk tabel saja, supaya mudah dan cepat dimengerti.


Apabila suatu saat rekan-rekan memasuki jalan, dan menemukan rambu "III C", maksudnya "si jalan" adalah:
"Wahai engkau pengendara yang akan melewati diriku...
Janganlah engkau memiliki berat yang lebih daripada 8 ton, atau aku kan cepat bergelombang bahkan berlubang...
Jangan juga engkau terlalu lebar melebihi 2,1m, atau kamu akan kewalahan memasuki diriku, dan mengganggu masyarakat sekitarnya...
Apalagi dengan panjang tubuhmu... Janganlah melebihi 9 m, atau kamu akan kesusahan dalam melakukan manuver, atau yang paling sial kamu tidak bisa putar balik sama sekali di dalam diriku..."

Understand???

Good...

Untuk kendaraan angkutan barang seperti truk atau pick up sudah diberi spesifikasi kelas jalan minimal yang dapat ia lalui, kalau rekan-rekan mau lihat, silahkan cari truk di jalan, lihat di sisi bak nya, disana tertera tulisan dari Dishub... "Kelas jalan" Naaah....
Kalau misanya dekat rumah rekan-rekan kelas jalannya III C, namun sering dilalui kendaraan besar yang tidak sesuai dengan tabel diatas, atau ada tulisannya II atau III A, segera hubungi polantas terdekat untuk dilakukan penindakan (tilang).

Saya mau berbagi pengalaman sedikit...

Saat saya dinas di Blitar ada kejadia truk gandeng mengangkut pupuk organik, menerabas jalan baru yang diyakininya bisa lebih cepat. Dia memasuki jalanan yang bertuliskan "III C", alhasil di tengah jalan dia ketemu dengan rel kereta, tanpa pintu rel, hanya beberapa pasang besi yang menancap di tanah untuk membatasi ruang bagi kendaraan yang besar.
Dia tetap ngotot, yakin dengan kemahirannya mengemudi, dia maju terus...
Lalu apa yang terjadi?
"BRUAKKKKKK!!!!!!"
Badannya lewat, ekornya nyangkut besi pembatas... Dihantam kereta api, pecah berhamburan bagian belakang truk gandeng, dan menyebarkan pupuk ke segala penjuru... Warga langsung berduyun-duyun keluar rumah membawa ember, plastik, dan apa saja.. Tapi bukan untuk menolong, melainkan mengamankan pupuk untuk kepentingannya sendiri... (itulah Indonesia) Hehehehe... Supir tidak terluka, tapi keretanya tersangkut karena rodanya keluar rel. Dalam 6 jam akhirnya kereta bisa berjalan lagi.

Jadi rekan-rekan, yakinlah bahwa rambu lalu lintas dibuat sebenarnya untuk melindungi rekan-rekan semua saat berkendara, bukan membuat susah.

Semoga bermanfaat!



)* = Dalam UU No. 22 Tahun 2009, ada penggolongan kelas jalan yang terbaru, namun sampai penulis menuliskan informasi ini PP yang belum ada, jadi masih tetap berpedoman kepada PP yang lama, karena tidak bertentangan dengan UU yang baru. Selain itu juga karena di lapangan masih banyak menggunakan rambu kelas jalan mengikuti PP 43 tahun 1993.

7 komentar:

  1. Ok Pak Pol.. Good article..keep posting...

    BalasHapus
  2. tapi kenapa banyak jalan yang gak ada tanda larangan kelas jalan ya? di Bogor jarang tuh ngeliat kelas jalan itu..

    BalasHapus
  3. @diazhandsome: maaf pak Diaz, kebetulan yang berwenang memasang rambu ada instansinya sendiri, saya yakin mereka punya pertimbangan untuk memasang atau tidak rambu di wilayah dinas mereka. Kami petugas yang bertugas menegakkan berlakunya rambu tersebut pak Diaz.

    BalasHapus
  4. Mas Sena,
    kalo di deket rumah, depan Mako Brimob Kelapa Dua....ada pabrik yg dibangun di lokasi jalan yg menurut tabel diatas, mgkn msk di kelas IIIb atau IIIc kali yah....tapi hampir seminggu sekali, ada truk gandeng container 16wheels yg suka masuk kesana buat nganter bahan baku pabrik....tp koq aman2 aja yah? aman dsini mksdnya, aman dr kesulitan manuver dll dan juga aman dr polisi/DLLAJ....dan itu juga yg aku heran, klo misalnya itu trmsk pelanggaran, siapa yg berhak memberikan sanksi tilang? DLLAJ kah atau polisi kah? mengingat rambu2nya bukan dipasang oleh instansi kepolisian kan...??

    WYP

    BalasHapus
  5. @maggots: terima kasih pak maggots, pertanyaan bapak sangat menarik.

    Dari cerita bapak, saya lihat bapak tidak melihat adanya rambu disana, hanya mengira-ngira tingkat kelas jalan.
    Jadi begini saya jawab langsung:

    A. Apabila TIDAK ADA rambu kelas jalan; polisi tidak bisa menilang, karena dasar hukum polisi tidak ada. Kalau dipaksakan juga, supirnya bisa protes dong ke polisi, "Pak, rambunya mana?!"
    Apabila memang membahayakan, tindakan paling maksimal polisi adalah mengajukan usulan pemasangan rambu, tidak bisa lebih dari itu.

    B. Apabila ADA rambu kelas jalan; ada dua kemungkinan lagi yang terjadi:

    B.1. Rambu itu dipasang SESUDAH pabrik berdiri, dan HANYA itu satu-satunya akses jalan. Kemungkinan ini kemungkinan besar pengendara membawa surat dispensasi dari instansi pemasang rambu. Kejadian ini terjadi saat saya tinggal di kontrakan Tulungagun. Jalan di depan rumah saya sempit, kelas III C, namun sering kendaraan yang masuk kelas III A, sudah besar, bau ayam pula... Hhhh... Setelah saya bawa anggota untuk menunggu kendaraan tersebut lewat, anggota saya mengingatkan, "Ijin ndan, pemilik truk tersebut adalah sesepuh disini. Usaha dia ada jauh sebelum dipasang rambu kelas jalan, dan yang membangun jalan ini adalah sumbangan dia... Dan juga, jalan ini buntu 'ndan, gak ada jalan lain untuk ke kandangnya.. (Usaha ayam petelur)" Nah, kalau anda dihadapkan dengan masalah ini, apakah anda akan tetap ngotot menilang dia?

    B.2. Rambu itu dipasang SESUDAH pabrik berdiri, namun ada jalan ALTERNATIF. Ini adalah kelalaian polisi yang tidak mengingatkan/menindak pelanggar.

    B.3. Rambu itu dipasang SEBELUM pabrik berdiri. Hal ini juga merupakan kelalaian pak pulisi, kenapa gak ditilang. Kalau bapak ketemu dengan situasi B2 & B3 bapak bisa protes kepada pak polisi langsung, atau via media di bagian komplain.

    Untuk mengatasi kemungkinan masalah pada huruf B, bapak harus mencari tahu dasar hukum pemasangan rambu tersebut (setiap rambu ada dasar hukum pemasangannya, bisa dicari di database instasi yang bersangkutan) berkaitan dengan "Mana yang duluan? Rambu, atau Pabrik?" Hal ini tidak perlu anda lakukan apabila ternyata, bapak tinggal disana mendahului keduanya, bapak otomatis bisa mengetahui siapa yang duluan, ayam atau telur (eh, maaf, maksud saya, rambu atau pabrik?)

    Saya kira itu jawaban yang bisa saya berikan, jadi rekan-rekan semua, aturan itu tidak bisa saklek/kaku sekali di lapangan, ada beberapa faktor yang tidak kasat mata membuat sesuatu yang ilegal menjadi legal.

    Contoh: Anda melihat pengendara sepeda motor bonceng 3, dihentikan polisi, 2 pakai helm, tapi yang tengah tidak pakai, dan sepertinya tertidur. Terjadi percakapan terlihat dari jauh, kemudian polisi melepasnya, dan motor melaju dengan sangat kencang. Apa pikiran anda?
    "Sialan! Pasti keluarganya tuh.. Dilepas aja.."
    atau
    "Ah polisi, gak pernah berubah, kelihatan kere, pake celana pendek, langsung dilepas.. Kita-kita yang pakaian lengkap, pasti dicari2 kesalahannya.."

    Padahal.........
    Saya pernah pada posisi petugas itu...
    Peumpang yang ditengah... Mulutnya berbusa, dan pengemudi dan penumpang paling belakan panik mau bawa ke RS...

    :-)

    Itulah yang terjadi di lapangan...
    Penuh dinamika...
    Jangan terpengaruh acara di TV Indonesia yah rekan-rekan, dari pagi sampai malam gosip artis melulu...
    Terlalu sering mendengar gosip akan melatih otak kita untuk cepat membuat penilaian tanpa fakta yang nyata...

    Mari latih otak kita untuk mendahulukan mencari kebenaran/fakta, sebelum kita melakukan penilaian... Kalau tidak memiliki fakta, dan males mencari fakta, lebih baik bertindak bijaksana untuk tetap netral dan tidak memihak siapapun.. (loh? koq jadi ceramah yah?)

    :-D

    BalasHapus
  6. tolong dibantu jelaskan pak??? dengan kondisi:
    1. dengan berat truck 4 ton + muatan 7 ton = 11 ton (konfigurasi smb 1,2. lebar <2,1 m, panjang <9 m, tinggi <3,5 m) menggunakan klas jalan 3b?
    2. kenapa izin operasi (hanya diperbolehkan unt 5000 liter saja (barang curah)?
    3. kenapa sy tdk menemukan klas jalan 3a, 3b dan 3c di uu no 22 pak???
    trimakasih...pak??? dengan kondisi:
    1. dengan berat truck 4 ton + muatan 7 ton = 11 ton (konfigurasi smb 1,2. lebar <2,1 m, panjang <9 m, tinggi <3,5 m) menggunakan klas jalan 3b?
    2. kenapa izin operasi (hanya diperbolehkan unt 5000 liter saja (barang curah)?
    3. kenapa sy tdk menemukan klas jalan 3a, 3b dan 3c di uu no 22 pak???
    trimakasih...

    BalasHapus
  7. @ramang:
    1. tanya Dishub
    2. tanya Dishub
    3. UU Baru menyederhanakan kelas jalan menjadi hanya kelas I, II, dan III. UU lama menggunakan kelas I, II, IIIA, IIIB, dan IIIC

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

KOMENTAR, PERTANYAAN, SARAN, KRITIK

Apresiasi terhadap blog ini, kesan dan pesan kepada penulis silakan tulis di "BUKU TAMU"

Pertanyaan, Komentar, Kritik, silakan tulis di www.facebook.com/penulisblogpelayanmasyarakat

Facebooker yang menyukai blog ini

Terima kasih untuk jempol(like)-nya yah rekan-rekan.. Senang bisa berbagi..

Kecelakaan Diawali Pelanggaran

Loading...